Kesalahan Orangtua Seputar Imunisasi Anak



Blog Ananda Ku - Imunisasi sangat penting diberikan bagi anak karena merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatananak di masa mendatang. Dengan pemberian imunisasi, anak akan memiliki kekebalan tubuh terhadap suatu jenis penyakit serta infeksi berbahaya. Dengan demikian, anak akan memiliki kesempatan untuk beraktivitas, bermain, dan belajar tanpa perlu dihantui oleh risiko terjangkitnya berbagai permasalahan kesehatan.
Imunisasi di Indonesia mulai dikenal sejak 1970. imunisasi dilakukan dengan memasukkan (menyuntikkan) vaksin ke dalam tubuh. Vaksin adalah bagian dari tubuh akan mengenalinya dan membangun antibody untuk melawan kuman penyakit yang sewaktu-waktu dapat menyerang tubuh.
  1. Imunisasi Aman dan Bermanfaat
Banyak pendapat, isu, dan kontroversi seputar imunisasi yang beredat di masyarakat. Meski demikian, banyak penelitian dan bukti statistic yang men yatakan bahwa imunisasi aman dan bermanfaat. Hingga saat ini, sebanyak 194 negara di seluruh dunia telah menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah penyakit berbahaya. Saat ini hampir semua Negara di dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan cakupan imunisasi hingga 90% anak di seluruh dunia.
Vaksin yang di gunakan dalam imunisasi anak telah melewati berbagai tahap pengujian mutu dan keamanan. Profil keamanan dan standar mutu vaksin selalu diperhatikan, diawasi, dan dijaga oleh banyak pihak yang terdiri dari dokter ahli penyakit infeksi, dab biostatika. Pada kenyataannya, tidak ada sama sekali ilmuwan yang menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.mereka yang berpendapat imunisasi berbahaya bukanlah ilmuwan atau orang yang berkompeten di bidang vaksin.
  1. Mengapa Anak Menjadi Sakit Setelah Diimunisasi?
Setelaah imunisasi kadang-kadang anak menjadi demam. Hal ini adalah respons normal dan wajar. Reaksi ini tidak berbahaya, justru menunjukkan bahwa vaksin yang disuntikkan telah bekerja. Sakit atau demam pada anak akan hilang dengan sendirinya setelah 1-2 hari. Untuk mengurangi gejala, anak dapat diberikan obat penurun panas, kompres, perbanyak ASi, serta banyak minum air putih.
  1. Mengenal Imunisasi Wajib dan Tambahan
Mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Pepatah tersebut sangat tepat kiranya digunakan untuk menggambarkan manfaat dari imunisasi yang diberikan kepada anak. Sesuai dengan program WHO, pemerintah Indonesia mewajibkan lima imunisasi bagi anak. Imunisasi tersebut terangkum dalam sebuah program yang bernama Program Pngembangan Imunisasi (PPi),
Berikut adalah lima jenis imunisasi yang wajib bagi anak.
  • Imunisasi hepatitis B. imunisasi ini diberikan untuk mencegah kerusakan hati akibat virus Hepatitis B. vaksin hepatitis B disuntikkan sesaat setelah bayi lahir, sebelum anak berusia 12 jam. Vaksin Hepatitis B juga diberikan pada anak berusia 1 bulan dan 6 bulan.
  • Imunisasi Polio. Imunisasi ini diberikan untuk mencegah kelumpuhan akibat serangan virus polio. Vaksin ini diteteskan pada mulut bayi yang baru lahir (ketika akan pulang dari rumah sakit). Pengulangan imunisasi polio dilakukan pada anak usia 2,4,6,18,24 bulan, dan 5 tahun.
  • Imunisasi BCG. Imunisasi ini diberikan untuk mencegah Tuberkulosis (TB). Vaksin BCG disuntikkan pada saat anak berusia 2-3 bulan. Bekas suntikan imunisasi ini dapat men imbulkan luka disertai nyeri dan demam. Akan tetapi, reaksi ini wajar dan dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Imunisasi DPT atau DpaT. Imunisasi ini diberikan untuk mencegah tiga penyakit, yaitu Difteri, Pertusis, dan Tetanus. Penyakit Difteri menyerang slauran pernapasan dan dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis mengakibatkan batuk hebat dan radang paru-paru. Penmyakit infeksi Tetanus dapat menyerang tubuh melalui luka, kuman akan mengeluarkan racun yang menyerang saraf dan menyebabkan seluruh tubuh kaku. Vaksin DPT diberikan pada saat berusia 2 bulan, 3-4 bulan, 4-6 bulan, dan 18-24 bulan.
  • Imunisasi ini dilakukan pada saat anak berusia 9 bulan. Imunisasi campak kedua diberikan pada saat anak berusia 6 tahun. Imunisasi ini dilakukan untuk mencegah penyakit campak.

Selain imunisasi wajib, ada pula imunisasi tambahan. Seperti halnya imunisasi wajib, imunisasi tambahan diberikan untuk memberikan kekebalan tubuha anak terhadap kuman penyakit tertentu. Berikut adalah jenis imunisasi tambahan yang dapat diberikan kepada anak.
  • Hib. Imunisasi diberikan untuk melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza tipe B. virus tersebut dapat menyebabkan meningitis (peradangan selaput otak), pneumonia, dan epiglotitis. Dalam pemberian imunisasi dapat dilakukan pada usia 2,4,6, dan 15 bulan.
  • Pneumokokus (PCV). Imunisasi ini diberikan un tuk melindungi tubuh dari bakteri jenis bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan meningitis, infeksi telinga, dan juga pneumonia. Waktu dalam pemberian vaksin ini sama dengan pemberian vaksin Hib akan tetapi pada pemberian teraklhbir dapat dilakukan pada usia antara 12-15 bulan.
  • MMR (Measles, Mumps, Rubella). MMR memberikan manfaat untuk melindungi tubuh dari virus-virus seperti campak, gondok, dan rubella. Dalam pemberian vaksin ini dapat diulang pada usia anak 6 tahun. Vaksin ini bahkan diberikan pada usia 12 bulan asalkan anak Anda belum mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan.
  • Imunisasi ini diberikan untuk melindungi tub uh dari virus influenza yang sering kali menyerang. Sekali sejak usia anak Anda 6 bulan bahkan bisa diteruskan hingga usia dewasa.
  • HPV (Humanpapilloma Virus). Vaksin HPV dapat melindungi tubuh dari serangan virus humanpapilloma yang dapat menyerang wanita, yaitu bagian kanker mulut rahim. Pemberian pada usia 10 tahun dan diberikan 3 kali dengan jadwal pada usia 1-2 bulan kemudian pada 6 bulan selanjutnya.
  • Imunisasi ini melindungi tubuh dari cacar air. Pemberian vaksin ini dengan usia anak Anda 5 tahun.
  • Hepatitis A. Imunisasi dapat melindungi tubuh dari virus hepatitis A yang dapat menyebabkan penyakit pada hati. PEmberian vaksin ini pada umur di atas 2 tahun, dua kali dengan interval 6-12 bulan.
  • Imunisasi ini dilakukan untuk melindungi tubuh dari bakteri salmonella typhi yang dapat menyebabkan tifus. Pemberian vaksin ini dilakukan pada usia 2 tahun dan di ulang pada usia 3 tahun. Ada dua jenis yang dapat diberikan baik secara oral dan suntik segingga tifoid oral dapat diberikan pada anak di atas 6 tahun.
  1. Kesalahan Orangtua Seputar Imunisasi Anak
Pemberian imunisasi adalah salah satu cara memberikan perlindungan anak dari berbagai serangan penyakit berbahaya yang dapat terjadi pada buah hati kita. Namun, banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh orangtua seputar imunissi anak. Kesalahan ini terjadi karena ketidaktahuan orangtua dan kecendrungan orangtua menyerap informasi tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh orangtua seputar imunisasi anak.

    1.Anak tidak boleh diimunisasi saat demam.
Pada dasarnya sedikit sekali yang dapat menyebabkan imunisasi anak harus ditunda. Merujuk kepada rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), beberapa kondisi yang dapat memperbolehkan anak menunda jadwal imunisasinya adalah sebagai berikut.
  • Demam tinggi lebih dari 38,5C.
  • Bayi batuk dan pilek. Saat diimunisasi bayi rewel. Imunisasi dapat ditunda 1-2 pekan.
  • Bayi atau anak sedang mengonsumsi antibiotic boleh diimunisasi. Yang harus dipertimbangkan adalah jenis penyakit yang diderita oleh bayi/anak.
  • Anak yang sedang mengonsumsi obat prednisone 2mg/kg berat badan tidak boleh diimunisasi. Imunisasi dilakukan setelah 1 bulan pengobatan selesai.
  • Anak yang mengalami kelainan neurologic dan riwayat kejang atau epilepsy boleh diimunisasi. Yang perlu diperhatikan adalah jika setelah didimunisasi anak demam, orangtua harus segera memberi obat penurun panas.
  1. Banyak orangtua berpendapat bahwa setelah ditetesi vaksin polio, anak tidak boleh langsung disusui.
Pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar. Setalah diteliti, antibody yang ditimbulkan ternyata sama antara bayi yang langsung disusui setelah imunisasi polio dengan yang tidak disusui.
  1. Anak ayng memiliki riwayat asma, eksem dan alergi boleh mendatkan imunisasi. Yang harus diperhatikan adalah riwayat alergi telur, seperti adanya gejala kesulitan bernafas, utikaria luas, pembengkakkan mulut dan tenggorokkan, penurunan darah serta lain sebagainya. Alergi telur adalah kontra indikasi terhadap vaksin influenza. Banyak orang tua berpendapat bahwa imunisasi dapat mencegah asma atau menyebabkan asma.
Pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar. Banyak penelitian menyimpulkan tidak ada bukti yang kuat bahwa imunisasi dapat mencegah atau menyebabkan asma.
  1. Daerah kulit yang disuntik imunisasi tidak perlu dibasahi kapas alkohol.
Hal ini bisa jadi benar. Namun, hal itu tergantung keaadaan kulit bayi. Bila kulit kotor bisa dibersihkan dulu dengan kapas air hangat atau kapas alkohol. Namun, jika sudah bersih cukup menggunakan kapas air hangat. Khusus BCG sebaiknya jangan menggunakan kapas alcohol yang terlalu basah karena bakteri nya bisa mati, lebih baik gunakan kapas air hangat.
  1. Sebagian orang tua berpendapat imunisasi menyebakan anak menjadi autis.
Pendapat ini adalah pendapat yang keliru. Memang saat ini ada kontroversi tentang pemberian vaksin MMR kaitannya dengan kejadian autisme pada anak. Hal ini terkait dengan hasil penelitian seorang doctor dari London pada sekitar 1998. fakta nya, beberapa ahli yang kembali melakukan penelitian untuk kasus ini tidak menemukan hubungan yang benar antara kejadiaan autisme dengan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh ahli WHO.
  1. Sebagian orang tua berpendapat bahwa vaksin tidak efektif dan tubuh anak dapat membangun kekebalan sendiri untuk melawan penyakit.
Hal ini menyebakan sebagian orang tua berpendapat bahwa imunisasi tidak perlu diberikan kepada anak. Banyak pakar kesehatan mengatakan bahwa imunisasi adalah cara terbaik yang pernah dilakukan untuk melindungi anak dari seranga berbagai penyakit berbahaya. Sejak teknik vaksinasi ditemukan dan diberikan, angka kejadian berbagai penyakit berbahaya menurun drastic. Sebagai contoh, menurut dara WHO, UNICEF, Bank Dunia, 3 Juta nyawa setiap tahun nya diselamatkan berkat imunisasi yang diberikan pada anak-anak. Angka kejadian polio berkurang drastic dari 300.000 pada 1980-an menjadi 200 kasus pada tahun 2002. Angka kematian akibat campak juga berkurang drastis, dari 873.00 pada 1999 menjadi 345.000 pada 2005.
  1. Ada yang berpendapat bahwa vaksin mengandung zat pengawet berbahaya sehingga banyak orang tua takut untuk mengimunisasi anaknya.
Pendapat ini adalah pendapat yang sama sekali tidak benar. Pembuatan vaksin telah melewati penelitian dan uji mutu yang panjang. Semua vaksin yang digunakan saat ini aman diberikan kepada anak dan tidak akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius pada anak.
Previous
Next Post »